Pekerjaan pemasangan tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki berbagai potensi bahaya, terutama ketika dilakukan di area yang berdekatan dengan jaringan listrik. Risiko tersebut dapat meningkat apabila identifikasi bahaya, pengamanan area kerja, serta koordinasi sebelum pekerjaan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Salah satu insiden yang menjadi pengingat pentingnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kecelakaan saat pemasangan tiang PJU yang menyebabkan satu pekerja meninggal dunia dan empat pekerja lainnya mengalami luka-luka setelah tiang yang dipasang tersambar jaringan listrik.

Kejadian seperti ini menunjukkan bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana tetap membutuhkan perencanaan dan pengendalian risiko yang serius.

Mengapa Pemasangan Tiang PJU Berisiko?

Pemasangan tiang PJU biasanya melibatkan aktivitas mengangkat, memindahkan, mendirikan, dan memasang tiang pada lokasi tertentu. Dalam pelaksanaannya, pekerja dapat berhadapan dengan beberapa potensi bahaya, antara lain:

  • Jaringan listrik udara di sekitar lokasi kerja.
  • Risiko tersengat atau terkena energi listrik.
  • Tiang atau peralatan kerja menyentuh jaringan listrik.
  • Tiang roboh atau kehilangan keseimbangan saat didirikan.
  • Tertimpa material atau peralatan.
  • Risiko kendaraan lalu lintas di sekitar area pekerjaan.
  • Kondisi cuaca, terutama hujan atau angin kencang.
  • Penggunaan alat kerja yang tidak sesuai.
  • Kurangnya komunikasi dan koordinasi antarpekerja.

Salah satu risiko yang harus mendapatkan perhatian khusus adalah jarak antara aktivitas kerja dengan jaringan listrik bertegangan.

Apa yang Salah dari Sisi K3?

Dalam setiap kecelakaan kerja, penyebabnya perlu dianalisis secara menyeluruh dan tidak langsung menyalahkan pekerja. Namun, dari perspektif K3, terdapat beberapa aspek yang harus dipastikan sebelum pekerjaan pemasangan tiang dilakukan.

1. Identifikasi Bahaya Tidak Dilakukan Secara Menyeluruh

Sebelum pekerjaan dimulai, tim harus mengidentifikasi seluruh sumber bahaya yang ada di lokasi.

Apakah terdapat jaringan listrik udara? Berapa jaraknya dari titik pemasangan? Bagaimana posisi tiang ketika diangkat? Apakah terdapat kemungkinan tiang atau alat kerja masuk ke area berbahaya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab melalui proses Job Safety Analysis (JSA), HIRADC, atau metode identifikasi risiko lainnya sesuai sistem K3 perusahaan.

2. Kondisi Jaringan Listrik Tidak Diverifikasi

Keberadaan kabel listrik di sekitar lokasi pekerjaan tidak boleh hanya dianggap sebagai informasi tambahan.

Tim perlu memastikan jenis jaringan, posisi, ketinggian, kondisi, serta potensi bahaya listrik yang dapat muncul selama pekerjaan. Jika pekerjaan berpotensi mendekati jaringan listrik, koordinasi dengan pihak terkait perlu dilakukan sebelum pekerjaan dimulai.

3. Jarak Aman Tidak Menjadi Pertimbangan Utama

Salah satu kesalahan yang dapat meningkatkan risiko adalah memperhitungkan jarak hanya berdasarkan posisi tiang ketika berdiri.

Padahal, saat proses pengangkatan, tiang dapat bergerak, berayun, atau kehilangan keseimbangan. Panjang tiang, posisi pekerja, alat bantu, serta kondisi lingkungan harus diperhitungkan.

Jarak aman harus menjadi bagian dari perencanaan pekerjaan, bukan baru dipikirkan ketika pekerjaan sudah berlangsung.

4. Tidak Ada Pengendalian Risiko yang Memadai

Setelah bahaya ditemukan, langkah berikutnya adalah menentukan pengendalian.

Pengendalian dapat mencakup perubahan metode kerja, pemindahan posisi pekerjaan, pembatasan area, penggunaan alat bantu yang sesuai, pemasangan rambu dan barricade, hingga koordinasi dengan pemilik atau pengelola jaringan listrik.

Prinsipnya, jangan hanya mengandalkan kewaspadaan pekerja.

5. Komunikasi dan Pengawasan Kurang

Pekerjaan pengangkatan dan pendirian tiang membutuhkan koordinasi yang jelas. Setiap orang harus mengetahui siapa yang memberikan aba-aba, siapa yang mengendalikan alat, siapa yang mengawasi area, dan kapan pekerjaan harus dihentikan.

Pengawas juga harus memastikan bahwa prosedur yang telah ditetapkan benar-benar dilaksanakan di lapangan.

Bagaimana Mencegah Kecelakaan Saat Pemasangan Tiang PJU?

Pencegahan harus dilakukan sejak tahap perencanaan. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:

1. Lakukan survei lokasi

Periksa kondisi area sebelum pekerjaan dimulai, termasuk keberadaan jaringan listrik udara maupun utilitas lainnya.

2. Buat JSA/HIRADC

Identifikasi bahaya pada setiap tahapan pekerjaan, mulai dari mobilisasi, pengangkatan, pendirian tiang, pemasangan lampu hingga pekerjaan selesai.

3. Tentukan metode kerja yang aman

Pastikan metode pengangkatan dan pemasangan telah mempertimbangkan panjang serta berat tiang, kondisi lokasi, peralatan yang digunakan, dan potensi kontak dengan jaringan listrik.

4. Pastikan jarak aman dari jaringan listrik

Jangan melakukan pekerjaan apabila posisi tiang, alat, maupun material berpotensi masuk ke area berbahaya jaringan listrik.

5. Koordinasikan pekerjaan dengan pihak terkait

Jika lokasi pekerjaan berada dekat jaringan listrik, koordinasi dengan pihak yang berwenang perlu dilakukan untuk menentukan tindakan pengamanan yang diperlukan.

6. Gunakan alat dan APD yang sesuai

APD merupakan lapisan perlindungan terakhir. Penggunaan helm keselamatan, sepatu keselamatan, sarung tangan, rompi keselamatan, dan perlengkapan lainnya harus disesuaikan dengan hasil identifikasi risiko.

Namun perlu diingat, APD bukan pengganti pengendalian bahaya listrik.

7. Terapkan sistem komunikasi yang jelas

Gunakan satu orang yang bertanggung jawab memberikan aba-aba selama proses pengangkatan dan pendirian tiang agar tidak terjadi instruksi yang saling bertentangan.

8. Terapkan Stop Work Authority

Apabila ditemukan kondisi yang tidak aman, pekerja maupun pengawas harus memiliki kewenangan untuk menghentikan pekerjaan sampai kondisi tersebut dikendalikan.

K3 Bukan Sekadar Menggunakan APD

Kecelakaan kerja sering kali dikaitkan dengan pertanyaan, “Apakah pekerja sudah menggunakan APD?”

Padahal penerapan K3 jauh lebih luas.

K3 dimulai dari perencanaan pekerjaan, identifikasi bahaya, penilaian risiko, pengendalian, kompetensi pekerja, prosedur kerja, komunikasi, pengawasan hingga evaluasi.

Dalam pekerjaan yang berhubungan dengan listrik, kesalahan kecil dapat memiliki konsekuensi yang sangat serius. Karena itu, pengendalian terhadap sumber energi listrik harus menjadi prioritas.

Jadikan Setiap Kecelakaan sebagai Pembelajaran

Insiden pemasangan tiang PJU yang menyebabkan korban meninggal dunia dan pekerja lainnya mengalami luka menjadi pengingat bahwa setiap pekerjaan memiliki risiko yang harus dikendalikan.

Tujuan penerapan K3 bukan hanya memastikan pekerja menggunakan helm atau rompi keselamatan, tetapi memastikan pekerja dapat menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke rumah dengan selamat.

Sebelum mendirikan tiang, mengangkat material, atau memulai pekerjaan di dekat jaringan listrik, berhentilah sejenak dan tanyakan:

“Apa saja bahaya di sekitar pekerjaan ini, dan apakah semua risikonya sudah dikendalikan?”

Kesimpulan

Kecelakaan saat pemasangan tiang PJU menjadi pengingat bahwa pekerjaan yang berdekatan dengan jaringan listrik memiliki risiko serius dan tidak boleh dilakukan tanpa perencanaan yang matang.

Penerapan K3 harus dimulai sebelum pekerjaan berlangsung, melalui survei lokasi, identifikasi bahaya, penilaian risiko, penentuan metode kerja yang aman, pengendalian sumber energi listrik, komunikasi yang jelas, serta pengawasan di lapangan.

Selain prosedur dan pengendalian di tempat kerja, kompetensi tenaga kerja juga menjadi bagian penting dalam mencegah kecelakaan. Pekerja yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan risiko pekerjaannya akan lebih memahami potensi bahaya serta cara bekerja secara aman.

Karena itu, mengikuti pelatihan dan sertifikasi K3 yang sesuai dengan bidang pekerjaan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja dan membekali pekerja dengan pemahaman mengenai prosedur keselamatan yang diperlukan dalam pekerjaannya.

Yang terpenting, kecelakaan kerja tidak seharusnya hanya menjadi bahan evaluasi setelah kejadian. Setiap potensi bahaya harus dikenali dan dikendalikan sedini mungkin.

Kenali bahayanya, tingkatkan kompetensinya, terapkan K3-nya. Karena keselamatan kerja dimulai dari tenaga kerja yang kompeten dan peduli terhadap keselamatan.

📞 Konsultasi & Pendaftaran Pelatihan | Biaya Pelatihan K3 Perkantoran

Ingin mengetahui biaya pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda?
Hubungi tim PT Safe Tra Indonesia sekarang untuk mendapatkan penawaran terbaik, jadwal pelatihan, dan juga konsultasi GRATIS.

👉 Daftarkan perusahaan Anda hari ini dan ciptakan lingkungan kerja yang lebih aman!

Pendaftaran Personal 👉  Investigasi Kecelakaan Kerja Akibat Unsafe Condition

Pendaftaran Perusahaan 👉  Investigasi Kecelakaan Kerja Akibat Unsafe Condition

Informasi Jadwal Pelatihan 👉 Penerapan K3 Perkantoran untuk Mencegah Risiko Kecelakaan Kerja


INFORMASI JADWAL DAN PENDAFTARAN :

Contact person

(021) 2762-3629 / (021) 3529-6760 (Kantor safetra)

0818-8532-4943 (Marketing)

0813-8425-3270 (Alternatif)

Sosial Media ⇓

Website     : www.safetra.co.id

Youtube     : Safetra Indonesia

Instagram : PT Safetra Indonesia

Facebook  : PT Safetra Indonesia

Tiktok        : Safetra Indonesia

Twitter      : Media.Safetra


Safetra Training Center, Bintaro Sektor 9

Jalan Elang VIII Terusan No 11 Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan

INGAT SAFETY? INGAT SAFE TRA!

Leave a Comment